Breakingnewsjabar.com – JAKARTA | Dirgakkum Korlantas Polri, Brigjen Pol Raden Slamet Santoso, menghadiri Rapat Koordinasi Pengawalan yang diselenggarakan Kantor Staf Presiden (KSP) untuk membahas isu strategis terkait darurat keselamatan transportasi jalan raya. Acara ini digelar di Ruang Rapat Utama (Rupattama), Lantai 2 Gedung Bina Graha, KSP, Gambir, Jakarta, pada Kamis (6/2/2025).
Dalam rapat tersebut, Brigjen Slamet menyoroti tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL). Kondisi ini tidak hanya meningkatkan risiko kecelakaan, tetapi juga menyebabkan korban jiwa.
“Dari 12 lembaga yang hadir, kita membahas tingginya jumlah kecelakaan lalu lintas, khususnya yang disebabkan oleh ODOL. Ini menjadi perhatian serius karena banyak kasus viral akibat pelanggaran ODOL,” ujar Dirgakkum.
Ia menjelaskan bahwa rapat ini merupakan tahap awal untuk mencari penyebab utama dan solusi terkait masalah tersebut. “Ini baru pembahasan awal, ke depan akan ada pembahasan lanjutan untuk merumuskan langkah konkret,” tambahnya.
Dirgakkum juga menyampaikan bahwa meskipun jumlah kecelakaan pada tahun 2024 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, korban kecelakaan masih didominasi oleh masyarakat kelas menengah ke bawah, yang umumnya merupakan tulang punggung keluarga.
“Di tahun 2024, hampir 26.000 nyawa melayang di jalan raya. Ini harus menjadi perhatian bersama. Kita harus mulai dengan menghentikan pelanggaran, mengurangi kecelakaan, dan menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama demi kemanusiaan,” tegas Brigjen Slamet.
Untuk meningkatkan kesadaran tertib berlalu lintas, Korlantas Polri fokus pada penegakan hukum di sektor hilir. Salah satu upayanya adalah dengan memperluas penggunaan kamera Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE). Saat ini, Korlantas telah mengoperasikan 1.760 kamera ETLE, baik statis maupun in the air , dan rencananya jumlah ini akan terus ditambah hingga akhir tahun 2025.
“Penegakan hukum di hilir dilakukan dengan memaksimalkan teknologi ETLE. Selain itu, kami juga sedang mengembangkan kamera dengan teknologi wide motion untuk mengukur beban kendaraan. Dengan kombinasi penegakan hukum melalui ETLE dan manual, kami berharap dapat meningkatkan keamanan dan keselamatan di jalan raya,” ungkap Dirgakkum.
Brigjen Slamet juga menekankan pentingnya pendekatan holistik, mulai dari hulu hingga hilir. Di hulu, fokus diberikan pada pengawasan kendaraan saat mengangkut barang dari gudang, pelabuhan, atau tempat lainnya. Sementara itu, di tengah proses distribusi, sosialisasi, pendidikan, pelatihan, serta peningkatan kualitas pengemudi menjadi prioritas.
“Barulah di hilir, kita melakukan penindakan hukum secara tegas. Semua ini bertujuan untuk menciptakan budaya tertib lalu lintas dan mengurangi angka kecelakaan demi keselamatan kita semua,” pungkasnya.
Sumber : Divisi Humas Polri

